Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Purnabhakti Diajak Keliling dengan Becak Sebelum Upacara


Pejabat Utama Polda dan purnabhakti Polda naik becak keliling Mapolda. (Foto:Lampost.co/Zainuddin)
BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Puluhan becak berhias terpakir di depan Graha Wiyono Siregar (GWS) Polda Lampung, Jumat (18/8/2017). Satu per satu anggota dan Pejabat Utama polda Lampung keluar dari mapolda kemudian beberapa polisi didampingi ibu bhayangkari menaiki becak tersebut. Para purnabhakti juga turut serta naik becak berhias. 
Suara gebukan drum dan trompet mengiringi setiap langkah para polisi tersebut, lagu instrumental Sayonara yang dimainkan marching band mengiringi detik-detik perpisahan mereka.
Iring-iringan becak tersebut berjalan secara seksama didampingi dengan Kapolda Lampung Irjen Sudjarno, Wakapolda Lampung Brigjen Bonifasius Tampoi, dan jajaran Pejabat Utama (PjU) Polda Lampung menuju barisan parade pedangpora di depan ruang lobi utama Mapolda Lampung meski hujan turun rintik-rintik.
Sesampainya mereka di depan lobi utama, Kapolda memimpin jalannya upacara purnabakti/wisuda 162 anggota Polda Lampung yang terdiri dari dua komisaris besar, 13 Ajun Komisaris Besar, tiga Komisaris , 13 Ajun Komisaris, 10 Inspektur satu, dan 11 inspektur dua, 108 Brigadir, dan tiga PNS Polda Lampung.
Satu persatu para purnawirawan tersebut berjalan, bersalaman dan berpelukan dengan jajaran PjU Polda Lampung, kembang dan bunga-bunga bertaburan selama mereka melewati barisan PjU Polda Lampung.
Kapolda mengatakan seluruh purnawirawan di Polda Lampung yang mengikuti proses wisuda kali ini, semasa menjabat dan bertugas memiliki integritas, dan keteladanan.
"Dibalik laki-laki yang kuat ada peremupuan di belakangnya, dan saya harap polisi-polisi muda nanti, bisa mencontoh integritas mereka (red purnawirawan)," kata Sudjarno.
Salah satu purnawirawan Ajun Komisaris S. Siregar mengaku sangat senang dengan prosesi purna bakti yang diadakan oleh Polda Lampung.
"Saya merasa senang, ini pertama kali Polda Lampung ngadain seperti ini, berkesan di masa saya purnabakti," kata Mantan Wakapolres Pasir Sakti, Lampung Tengah itu.
Menurutnya pengalaman yang paling berkesan, saat ia berinas di Polres Lampung Barat, ketika terjadi gempa bumi pada tahun 1994 itu. Selain sebagai korban, ia juga harus berjibaku untuk mengamankan warga yang menjadi korban bencana alam tersebut.

Published: By: sri agustina - 12.24

Jumat, 18 Agustus 2017

Ancam Sebar Foto Mesum, Warga Pekalongan Peras Mantan Pacar

Ilustrasi. (MTVN)

SUKADANA (Lampost.co) -- Jaka Sumarna alias Denjaka (35) Desa Sidodadi, Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur, diamankan di Mapolres Lampung Timur, karena telah memeras korban berinisial TW dengan modus akan menyebarkan foto mesum yang dilakukan antara pelaku dan korban.

Kapolres Lampung Timur, AKBP Yudhi Chandra Erlianto mengatakan, sebelumnya pelaku dan korban pernah memiliki hubungan dekat, saat melakukan tindakan mesum, Jaka mengabadikan sebuah foto foto bersifat porno miliknya yang dilakukan dengan TW.


Lalu timbul pikiran jahat Jaka dengan memanfaatkan foto beradegan mesum dengan korban, digunakan sebagai alat untuk mengancam TW meminta uang sebesar Rp5 juta.

"Jika korban tidak memberikan uang yang diminta pelaku, maka pelaku akan menyebarkan foto-foto dimaksud," terang Kapolres Lamtim, Jumat (18/8/2017).

Berdasarkan laporan korban LP/474-B/VIII/2017/PLD LPG/Res Lamtim, 16 Agustus 2017, lalu anggota tekab 308 melakukan penyelidikan, dan pelaku ditangkap pada Kamis (17/8/2017) malam di Desa Sidodadi, Kecamatan Pekalongan. Pelaku dijerat dengan pasal 45 ayat (1), (4) UU No 19 Tahun 2016 tentabg perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Lanjut AKBP Yudhy Chandra Erlianto, barang bukti yang diamankan dari tangan pelaku yaitu, uang tunai sebesar Rp2,5 juta, satu unit handphone samsung J5, satu unit handphone merk Vivo warna hitam dua belas lembar foto warna ukuran 3x4 cm, dan satu buah SIM C atas nama Jaka Sumarna.

Published: By: Agung Harikresna Hyattdi - 11.21

Rabu, 16 Agustus 2017

Pol PP Tertipkan Banner Melanggar


POLISI Pamong Praja (Pol PP) Kota Bandar Lampung kembali menggelar razia banner sosialiasi pilgub di sepanjang jalan protokol Kota Tapis Berseri. Kasat Pol PP Kota Bandar Lampung Cik Raden mengatakan penertiban dilakukan di sepanjang Jalan Sultan Agung, Way Halim, Teuku Umar, dan Zainal Abidin Pagaralam.

"Banner yang kami tertibkan yang enggak ada pemberitahuan ke pihak Pemkot, terutama yang main paku-paku saja di pohon," kata Cik Raden, Senin (14/8).

Penertiban ini termasuk bendera partai, banner pedagang, dan iklan yang sudah habis masa berlakunya. Razia kali ini merupakan lanjutan dari penertiban banner yang sempat digelar beberapa waktu lalu.

"Kan ada yang baru pasang. Ya kami buka. Beberapa sudah diimbau agar melepas sendiri, tetapi masih saja dipasang. Nantinya kami simpan di kantor. Silakan diambil sendiri," ujarnya.

Pak Cik, sapaan akrabnya, juga mengimbau agar pemasang banner memakai media yang sudah ditentukan, seperti reklame. "Kan media yang jelas sudah ada, kenapa mesti di pohon-pohon."

Mengenai para pemasang banner yang kerap membandel ini, pihaknya mengatakan tidak memiliki cara lain selain melakukan razia penertiban. "Kami surati sudah kepada pihak yang memasang atau mengetahui banner itu. Namun, kondisinya tetap terus dipasang. Jadi ya biarkan saja, akan kami operasi terus."

sumber : www.lampost.co
penulis : (MAN/U2) 
Published: By: Agung Harikresna Hyattdi - 10.31

Pilgub bakal Diikuti 99.247 Pemilih Pemula


Kandidat yang memiliki pendekatan sosial media yang komprehensif berpeluang untuk mendapatkan suara pemilih pemula.

BERDASARKAN data pilkada terakhir, Komisi Pemilihan Umum Lampung mencatat terdapat 99.247 pemilih pemula yang tersebar di 13 kabupaten/kota di Lampung. Jumlah itu terdiri dari pemilih pemula perempuan sebanyak 48.924 orang dan pemilih laki-laki 50.323 jiwa. Jumlah itu tentu cukup mendongkrak suara pasangan calon yang akan menjadi peserta Pilgub pada 27 Juni 2018.

Untuk menarik simpati para pemilih pemula itu, menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Lampung, Toni Wijaya, tentu memiliki strategi. Ia menerangkan pemilih milenial sekarang yaitu generasi Z, merupakan generasi yang melek akan teknologi dan hidup dalam teknologi informasi.

"Pemilih pemula tidak terlalu terpengaruh ideologi atau isu politik. Bagi mereka yang lebih penting adalah citra dan popularitas," kata Toni, Senin (14/8).

Oleh karena itu, calon-calon yang memiliki pendekatan sosial media yang komprehensif berpeluang untuk mendapatkan suara pemilih pemula tersebut. Namun, ia juga mengatakan bahwa kampanye konvensional masih efektif.

"Akan lebih besar magnetnya jika kuat di media sosial. Sebab, pemilih pemula selalu terkena terpaan informasi. Oleh sebab itu, calon yang pesannya kuat di medsos akan mengendap di memori pemilih pemula/remaja," kata akademisi FISIP Unila itu.

Ia menjelaskan strategi pencitraan dengan merangkul komunitas-komunitas pemuda juga cukup efektif. Namun, haruslah komunitas yang eksis dan mempunyai aktivitas dengan massa yang besar atau tidak. "Jika komunitas pemuda itu hanya deklarasi lalu melempem tidak ada guna," ujarnya.

Untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula, komisioner KPU Lampung, Solihin, mengatakan pihaknya akan terus membuat terobosan agar sosialisasi dapat menyentuh di setiap tingkatan. "Pilgub Lampung ini pesta demokrasi milik masyarakat Lampung," kata Coing, sapaan koordinator Divisi Pengembangan SDM dan Partisipasi Masyarakat itu.

Untuk memperbaiki data pemilih, kata dia, KPU akan melibatkan semua pihak agar terlibat aktif dalam membantu dan memonitor pelaksanaan pemutakhiran data pemilih. "Semoga dengan masyarakat terdaftar dalam data pemilih, mereka bisa memilih. KPU menarget tingkat partisipasi 77,5% bisa tercapai," ujarnya.

Menurut dia, KPU Lampung juga menggelar kursus-kursus kepemiluan untuk pengembangan komunitas peduli pemilu dan gerakan masyarakat sadar demokrasi. Melalui agen demokrasi dan komunitas yang telah dibentuk diharapkan bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat di lingkungan terdekat, baik teman, sahabat, keluarga, maupun organisasinya. "Harapannya mereka bisa membantu meningkatkan partisipasi pemilih."

sumber : www.lampost.co
penulis : TRIYADI ISWORO
Published: By: Agung Harikresna Hyattdi - 10.24

Truk Batu Bara Tetap Dilarang

Pengusaha harus mengantongi surat izin rekomendasi penggunaan jalan negara dari Balai Besar Pekerjaan Umum Regional V di Palembang, Sumsel.

SEBELUM para pengusaha angkutan batu bara mengantongi surat izin rekomendasi penggunaan jalan negara, tidak boleh satu pun kendaraan pengangkut batu bara melintas di jalan lintas tengah Sumatera, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung.

Hal itu tertuang dalam hasil kesepakatan bersama pada rapat koordinasi (rakor) di Aula Adhi Pradana, Mapolres Way Kanan, Senin (14/8). Rakor yang bertujuan mencari solusi itu dihelat pihak Polres dengan diikuti Pemerintah Kabupaten (Pemkab), DPRD, perwakilan pihak pengusaha batu bara, dan beberapa perwakilan masyarakat.

Kapolres Way Kanan AKBP Budi Asrul Kurniawan menuturkan sebelum terjadi kesepakatan bersama bahwa kendaraan batu bara belum dapat melintas, Polres mengajukan beberapa kesepakatan seperti sumbu kendaraan dan jam malam pengoperasian mobil batu bara untuk melintas, yakni dari pukul 21.00?06.00.

Namun, setelah mendengar penyampaian dari Kepala Dinas PU Way Kanan, pengusaha angkutan batu bara harus mengantongi surat izin rekomendasi penggunaan jalan negara dari Balai Besar Pekerjaan Umum Regional V di Palembang, Sumatera Selatan.

Apabila surat izin ini telah dikantongi pengusaha angkutan batu bara, kendaraan batu bara dapat melintas dengan regulasi yang telah ditetapkan, seperti pengoperasian jam malam dan sumbu kendaraan maksimal 20 ton. "Sebelum izin itu dikantongi, satu pun kendaraan batu bara tidak boleh melintas di jalan lintas tengah Sumatera, Kabupaten Way Kanan," ujar Kapolres.

Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya menerangkan permasalahan batu bara sebenarnya sudah lama dan berlarut-larut. Dalam hal ini, Pemkab sebenarnya tidak mempunyai wewenang penuh terkait jalan negara ini. Namun, lantaran permasalahan ini terjadi di Way Kanan, menurut Adipati, pemerintah harus hadir di tengah-tengah masyarakat untuk pencarian solusi terhadap masalah ini.

Patuhi Aturan

Saat ini sudah jelas dan sudah terlihat solusinya. Sebelum pengusaha angkutan batu bara menjalankan kendaraan mereka, para pengusaha harus mengantongi izin rekomendasi penggunaan jalan negara. Sebab itu, Bupati mengimbau para pengusaha batu bara untuk mematuhi aturan-aturan yang berlaku agar tidak terjadi lagi satu permasalahan pun.

"Setelah izin rekomendasi penggunaan jalan negara tersebut dikeluarkan, para pengusaha angkutan batu bara dapat melintas, dengan catatan sebagaimana disampaikan Kapolres Way Kanan terkait sumbu, pengoperasian jam malam, dan sebagainya," kata Raden Adipati.

Hadir dalam rakor tersebut yakni Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya, Ketua DPRD Nikman Karim, Dandim 0427/Way Kanan Letkol Inf Uci Cambayong, Penjabat Sekretaris Kabupaten Saipul, Kepala Dinas PU Ali Rahman, Kepala Dinas Perhubungan Odany, perwakilan pengusaha angkutan batu bara, dan perwakilan masyarakat.

Published: By: Agung Harikresna Hyattdi - 10.19

Lampung Miliki Keunggulan Jadi Ibu Kota


Rektor UBL, Yusuf Barusman saat menjadi narasumber dalam FGD terkait Lampung alternatif sebagai ibukota RI di hotel Emersia, Selasa. (Foto: Lampost/Effran)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Yayasan Alfian Husin menggelar Forum Grup Diskusi (FGD) terkait Lampung sebagai alternatif ibukota Indonesia. Dalam kajian ilmiah itu, dihasilkan jika bumi ruwa Jurai memiliki potensi dan keunggulan dijadikan ibukota terkait dengan wacana pemindahan ibukota dari Jakarta.
Rektor Universitas Bandar Lampung, Yusuf Barusman, menjelaskan pemindahan ibukota telah banyak dilakukan diberbagai negara, seperti Brazil yang salah satu faktornya adalah ketimpangan ekonomi dan pembangunan. Di Indonesia, pemisahan tersebut harus memperhatikan berbagai faktor.
"Faktornya seperti dari segi geografis, Lampung tidak masuk untuk itu, karena wilayahnya tidak di tengah indonesia. Namun, kalau centrum, itu sudah tidak lagi bisa digunakan. Lalu terkait Jawa dan non-Jawa, populasi Lampung juga tidak masuk karena jawa memiliki populasi terbesar," urainya sebagai pembicara FGD itu.
Menurutnya, dalam pemindahan ibukota patut pula mengakomodir tiga aspek, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sehingga, untuk memindahkannya, harus terdapat pengosongan lahan untuk dihibahkan kepada pemerintah pusat. "Jadi provinsi tidak memiliki kewenangan lagi untuk daerah itu," ujarnya.
Ketua Yayasan Alfian Husin, Andi Desfiandi, mengatakan diskusi itu merupakan langkah awal untuk mewujudkan Lampung sebagai alternatif pusat pemerintahan. Forum tersebut bukan untuk melihat sifat subjektif, melaunkan objektif. Sebab, dari beberapa alternatif kota yang diwacanakan, Lampung menjadi yang paling visible.
"Ini berdasarkan dari kajian ilmiah. Ditambah dengan forum ini langkah ke depan akan menjadi cepat dan mudah. Ke depan akan digelar kembali forum serupa ditingkat nasional dan forum kecil di kampus dengan gelaran seminar. Lalu mensosialisasikan hasil kesimpulan forum ini hingga uji publik kepada masyarakat," urainya.
Menarik kesimpulan diskusi, lanjutnya, dari segi sosial, budaya, ekonomi, infrastruktur, energi, transportasi, pertahanan, dan keamanan, Lampung memiliki keunggulan di seluruh bidang tersebut.
"Seperti dari segi energi, Lampung memiliki panas bumi terbesar nomor 3 di Indonesia. Panas bumi itu pun baru 10 persen yang dieksploitasi, yaitu di Ulubelu, Tanggamus. Maka itu dengan diskusi ini akan mendapatkan hasil kajian ilmiah, sehingga bisa di pertanggungjawabkan secara keilmuan," ungkapnya.
Di samping itu, Dosen Fisip Unila, Safarudin Rahman mengungkapkan forum diskusi itu sebagai kepentingan Lampung dalam memecahkan problem nasional, yaitu untuk membenahi Jakarta, atau memindahkan ibukota, atau hanya memindahkan pusat pemerintah.
"Dari hasil diskusi tadi, yang paling dominan adalah memindahkan ibukota. Untuk itu pemerintah pusat harus memiliki langkah dengan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), sehingga kehendak untuk memperbaiki ibukota bisa dilakukan," kata dia.
Terkait Lampung, dengan potensi yang dimilikinya, provinsi tersebut pun berani unjuk diri dalam beauty contrast sebagai daerah yang paling visible untuk alternatif pemindahan ibukota.
Published: By: Agung Harikresna Hyattdi - 10.14

 

Recent Posts